Welcome to My Blog

Assalamu’alaikum, salam sejahtera, salam bahagia buat siapapun yang telah menyempatkan waktu mengunjungi blog saya.
Blog ini dibuat untuk berbagi informasi dan berbagi segala sesuatu yang saya rasakan dan pikirkan. kalau ada manfaatnya alhamdulillah, kalaupun nggak ada manfaat bagi pembaca, yaaa seenggaknya saya telah berusaha menulis. karena selalu ada kepuasan setelah saya menulis.
Well, salam kenal buat semua, salam persahabatan!🙂 Baca lebih lanjut

MENEMBUS EROPA BERMODAL BOARDING PASS BEKAS

151014001okt_14_bukubangalipenumpanggelap(2)

Kisah ini jangan pernah ditiru. Jangan! Penuh resiko dan berbahaya….

Kisah ini adalah sejarah hidup bagi Alijullah Hasan Jusuf ketika berusia 17 tahun. Pemuda nekad ini terbang menembus Eropa kala itu. Lantas apa yang jangan ditiru dan berbahaya? Pria asal Aceh ini mendarat di Belanda hanya bermodal boarding pass bekas. Ya, tanpa paspor, tanpa visa, dan tanpa uang.

Semua cerita ini awalnya ia tutup rapat selama berpuluh-puluh tahun. Namun terbesit untuk menuangkan pengalaman hidupnya ini ke dalam buku yang kemudian ia beri judul Penumpang Gelap: Menembus Eropa Tanpa Uang, terbitan Kompas tahun 2015. Staf KBRI Prancis ini menuliskan pengalaman hidupnya dengan apik dan mengalir. Pembaca diajak terjun ke masa lalu dimana suasana politik di Jakarta memanas. Pembaca juga dibius seolah merasakan kerasnya hidup anak rantau di ibu kota, serta ikut merasakan ketegangan perjalanan menuju Eropa.

Buku setebal 300 halaman lebih ini terbagi menjadi tiga bgaian, yakni kisah Ali di Jakarta, bagaimana Ali menjadi penumpang gelap, dan kisahnya menjadi tahanan. Setiap babak diceritakan dengan detail dengan narasi yang menarik membuat pembaca penasaran dengan cerita-cerita berikutnya. Ini memang cerita langka, bagaimana seseorang bisa ke luar negeri hanya bermodal boarding pass.

Cerita nyata yang terjadi di tahun 1967 ini menjadi awal mula Ali mengubah nasib hidupnya. Ali muda yang penuh semangat dan nekad ini jengah dengan situasi Jakarta yang riuh karena demontrasi dimana-mana. Dengan penuh perjuangan menjalani kehidupan Jakarta untuk sekolah, Ali juga menjajakan diri sebagai penjual koran dan rokok. Bagi warga Aceh, merantau ke Jakarta merupakan langkah untuk merubah nasib menjadi lebih baik. Tapi paradigma itu tidak berlaku untuk Ali.

Ali remaja kala itu justru berpikir untuk merantau ke luar negeri. Aktivitas lalu lintas pesawat di Bandara Internasional Kemayoran ini mengubah mimpi Ali. Ia membulatkan tekadnya melanjutkan sekolah ke luar negeri. Walaupun ia sadar, ia tidak punya uang.

Setiap hari Ali mempelajari system di bandara, hingga akhirnya ia menemukan cara untuk bisa terbang ke Belanda, yakni melalui boarding pass bekas yang ia temukan. Ia menyusup dalam rombongan pelajar Belanda hingga masuk ke pesawat. Saat itu, maskapai Garuda Indonesia yang ia tumpangi transit di banyak negara seperti Singapura, Thailand, India, Pakistan, Mesir, Italia, barulah datang di Belanda. Setiap transit itu ia kerap mengalami ketegangan dan kepanikan. Dengan terus berdoa dan pasrah, Ali mencoba menenangkan diri. Maka tibalah  Ali di Amsterdam Belanda. Kala itu suhu sampai minus 10 derajat celcius. Sedangkan Ali yang bahkan baju tebal pun tidak ia bawa, merasakan kedinginan yang teramat sangat. Udara dingin yang menusuk kulitnya dibalut dengan kepanikan.

Tiba di bandara, Ali tertangkap petugas keamanan. Ali menjadi pusat perhatian karena keberhasilannya menjadi penumpang gelap, tanpa identitas apaun kecuali sebuah kartu KAPI, Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia. Ketika itulah, Ali sempat bertemu dengan polisi Belanda yang lahir di Aceh dan bisa berbahasa Indonesia. Diapun mendapat kesempatan berputar kota selama 45 menit. Selanjutnya, dia dibawa ke penjara yang mewah bagai hotel berbintang. Walaupun sempat bersitegang dengan petugas perwakilan Indonesia, Ali tetap diperlakukan dengan baik. Besok paginya, Ali dibawa kembali ke bandara untuk dipulangkan ke Indonesia dan dibekali uang Belanda 20 Gulden. Lalu bagaimana Ali bisa kembali ke Eropa bahkan sampai sekarang menetap di Prancis?

Baca cerita selengkapnya di buku, Penumpang Gelap: Menembus Eropa Tanpa Uang.

Open Registration! Program Pertukaran Pemuda Kab. Pandeglang 2015

photo

Beberapa alumni Program Pertukaran Pemuda (PPAN, BPAP, KPN) Kabupaten Pandeglang

Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Pandeglang membuka kembali kesempatan kepada pemuda untuk mengikuti program pertukaran pemuda tahun 2015. Pendaftaran dibuka tanggal 2-18 Februari 2015. Kumpulkan berkas pendaftaran di Kantor Disparpora (Di Balai Budaya, sebelah timur alun-alun). Seperti tahun-tahun sebelumnya, program ini terdiri dari tiga program, yakni Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN), Bakti Pemuda Antar Provinsi (BPAP) dan Kapal Pemuda Nusantara (KPN). Kamu bisa pilih program sesuai minat dan kemampuan kamu. Ketiga program ini pada dasarnya memiliki keunggulan masing-masing dan kesamaan visi yakni untuk mengenalkan kebudayaan asal daerah dan juga memberikan kesempatan untuk mengetahui kebudayaan daerah lain juga. Hanya cakupan dan kegiatan programnya saja yang berbeda. Jika PPAN, kamu tidak hanya mengetahui kebudayaan daerah lain di Indonesia, melainkan kebudayaan negara lain. Sedangkan BPAP, kamu akan ditempatkan di suatu daerah bersama teman-teman dari daerah yang berbeda-beda. Sedangkan KPN, kamu akan bertemu dengan teman-teman dari daerah lain di dalam kapal dan mengarungi lautan Indonesia dari satu pulau ke pulau lain. Kurang lebih begitu gambarang teramat singkatnya.
Nah, untuk informasi lebih jelasnya mengenai ketiga program tersebut, kamu juga bisa  tanya-tanya ke beberapa alumni yang mewakili Pandeglang di tahun sebelumnya.

1. PPAN >>> Zahara di Twitter @zahara_amalia

2. BPAP >>> Maman di FB https://www.facebook.com/mmaman.sumaludin

3. KPN >>> Fikar di FB https://www.facebook.com/vkrsugiawan?fref=ts

Berikut ini persyaratan dan formulir mengikuti PPAN, BPAP, dan KPN yang bisa kamu unduh. Daftar dan ikuti seleksinya, maka pengalaman berharga siap menanti kamu!🙂

PERSYARTAN PESERTA KEGIATAN SLEKSI BPAP DLL TK. KAB

BIODATA

Persyaratan Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN)

Kabar gembira untuk kamu yang selama ini menanti informasi program Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN). Tahun 2015 ini pun seleksi PPAN akan segera  dibuka di masing-masing Dispora Provinsi. Sebagai acuan, berikut ini akan saya tuliskan persyaratan dan beberapa hal yang berkaitan dengan seleksi PPAN  yang saya ikuti pada tahun 2013 lalu di Provinsi Banten.

Persyaratan Administrasi Calon Peserta

  1. Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
  2. Warga Negara Indonesia
  3. Mempunyai minat yang kuat dalam bidang pemberdayaan pemuda, kesukarelawanan/volunteering dan kepeloporan
  4. Usia calon peserta PPAN pada saat diusulkan oleh Dispora adalah sebagai berikut :
    – Pertukaran Pemuda Indonesia Kanada (PPIK) : 18 – 23 tahun
    – Pertukaran Pemuda Indonesia Australia (PPIA) : 21 – 25 tahun
    – Pertukaran Pemuda Indonesia Malaysia (PPIM) : 23 – 27 tahun
    – Pertukaran Pemuda Indonesia Korsel (PPIKor) : 18 – 24 tahun
    – Pertukaran Pemuda Indonesia China (PPIC) : 18 – 28 tahun
  5. Memiliki paspor yang masih berlaku
  6. Melampirkan SKCK dari kepolisian daerah setempat
  7. Surat Izin dari kampus (mahasiswa)
  8. Fotokopi akta kelahiran
  9. Fotokopi KTP/Kartu Mahasiswa
  10. Fotokopi sertifikat TOEFL/TOEIC/IELST
  11. Foto berwarna 6 lembar ukuran 2×3 dan 4×6 dengan latar belakang warna putih
  12. Surat MCU

Baca lebih lanjut

Thankful in 2014 And Please, Welcome 2015

Setahun berlalu, tahun 2014 pun hanya tersisa dalam hitungan jam. Banyak hal yang telah berlalu seiring berjalannya waktu selama setahun ini. Dan tentu amat saya syukuri. Bagaimana tidak? Saya masih diberikan kesempatan untuk bernafas hingga detik ini. Sehingga saya bisa menulis catatan ini. Sehingga saya bisa berpikir untuk merenungkan apa yang telah terjadi setahun ini. Untuk apa? Tentu agar tahun berikutnya bisa lebih baik lagi. Bukankah hal itu yang selalu diinginkan oleh kita?

Di awal tahun 2014, pada Januari tepatnya, saya kembali gagal masalah cinta. I broke up with my ex coz something. Soal cinta emang selalu rumit dijalani so far. Allah pasti telah menyiapkan the best one. Beruntungnya, saya nggak begitu sedih berlebaian kala itu. Cukup semalam saja menangis. Ditambah, saya juga sedang ada kesibukan. Januari hingga Februari saya masih berada di dalam program AIYEP. Bergabungnya saya di AIYEP membuat hidup saya lebih berwarna dan berarti. Darinya, saya bisa bertemu dengan orang-orang hebat yang menginspirasi saya untuk lebih semangat, open minded dan menyadari keindahan perbedaan. Selama di AIYEP itulah saya dipertemukan dengan orang yang berbeda agama, latar belakang budaya, keluarga, suku, pendidikan, karakter, lalu dari perbedaan itu saya bisa belajar untuk menerima perbedaan yang selama ini seolah menjadi kambing hitam dalam perselisihan dan perpecahan. To be honest, I do love AIYEP.  Saya amat bersyukur telah menjadi bagian darinya. Bukan hanya itu yang saya dapatkan saya juga memiliki banyak keluarga baru. Yang mungkin nggak gampang bisa didapatkan oleh orang lain.

Maret, pertama kalinya saya ke luar negeri yakni ke Singapura dan Malaysia sendirian. Terus terang saya bangga akan hal ini. Hal yang mungkin orang lain takut melakukannya. Tapi saya berhasil menaklukan ketakutan itu. Bagi orang asing, bepergian sendiri ke luar negeri mungkin amat hal biasa. Tapi bagi saya, orang yang berasal dari keluarga berekonomi menengah dan berada dalam lingkungan yang belum biasa bepergian sendiri apalagi ke luar negeri, itu menjadi hal yang nggak biasa. Baca lebih lanjut

Sekali Baca Langsung Nangis

Ketika blogging, secara nggak sengaja saya baca tulisan seseorang dengan judul “Jangan nangis setelah baca tulisan ini” maka saya penasaran ada apa dengan tulisannya? Setelah saya baca, saya pun tidak kuasa untuk meneteskan air mata. Inilah tulisan selengkapnya :

Seorang pemuda duduk di hadapan laptopnya. Login facebook. Pertama kali yang dicek adalah inbox.
Hari ini dia melihat sesuatu yang tidak pernah dia pedulikan selama ini. Ada 2 dua pesan yang selama ini ia abaikan. Pesan pertama, spam. Pesan kedua…..dia membukanya.
Ternyata ada sebuah pesan beberapa bulan yang lalu.
Diapun mulai membaca isinya:
“Assalamu’alaikum. Ini kali pertama Bapak mencoba menggunakan facebook. Bapak mencoba menambah kamu sebagai teman sekalipun Bapak tidak terlalu paham dengan itu. Lalu bapak mencoba mengirim pesan ini kepadamu. Maaf, Bapak tidak pandai mengetik. Ini pun kawan Bapak yang mengajarkan.
Bapak hanya sekedar ingin mengenang. Bacalah !
Saat kamu kecil dulu, Bapak masih ingat pertama kali kamu bisa ngomong. Kamu asyik memanggil : Bapak, Bapak, Bapak. Bapak Bahagia sekali rasanya anak lelaki Bapak sudah bisa me-manggil2 Bapak, sudah bisa me-manggil2 Ibunya”.
Bapak sangat senang bisa berbicara dengan kamu walaupun kamu mungkin tidak ingat dan tidak paham apa yang Bapak ucapkan ketika umurmu 4 atau 5 tahun. Tapi, percayalah. Bapak dan Ibumu bicara dengan kamu sangat banyak sekali. Kamulah penghibur kami setiap saat.walaupun hanya dengan mendengar gelak tawamu.
Saat kamu masuk SD, bapak masih ingat kamu selalu bercerita dengan Bapak ketika membonceng motor tentang apapun yang kamu lihat di kiri kananmu dalam perjalanan. Baca lebih lanjut

Menes, Teramat Sayang Untuk Disayangkan

Sebelumnya saya pernah posting tentang sejarah dan perkembangan Menes. Sebuah kecamatan yang secara kasat mata, nggak ada perkembangan signifikan dan memukau hingga wow selama saya tinggal 24 tahun di Kecamatan ini. Yang melatar belakangi saya kembali menulis tentang Menes ini adalah….

Pagi tadi, usai marathon dari rumah saya di Kampung Pasirwaru menuju Alun-Alun Menes, saya mampir ke PKBM Menes. Pada marathon sebelumnya saya juga beberapa kali menyempatkan mampir. Tapi hanya sekedar duduk-duduk di pelataran PKBM. Nggak ada seorang pun yang bisa saya temui disana. Mungkin masih pada tidur. Biasanya saya tiba di alun-alun pukul 6 pagi atau lewat beberapa belas menit. Kali ini, saya coba datangi lagi. Dengan berharap ada seseorang yang saya temui. Ternyata harapan saya nyata. Ada orang disana. Yeah!

Saya ingin berbincang-bincang tentang kegiatan PKBM ini, karena saya tertarik terlibat jika ada kegiatan. Sebelum saya menemui orang itu, saya melihat terpasang spanduk besar bertulis “Sanggar Seni dan Budaya Berkah.” Wah, ada sanggar nih. Saya semakin tertarik karena saya juga memang ingin ikut kegiatan sanggar. Saya ingin belajar silat (lagi). *Uhuk😀

Dulu pas jaman SD pernah belajar silat, karena itu termasuk kegiatan yang harus diikuti oleh siswa SDN Menes 1. Tempat saya sekolah dulu, tahun 1997-2002. Setelah itu saya baru belajar silat lagi tahun 2013, tapi singkat sekali hanya beberapa kali pertemuan. Itu pun latihannya di Sodong, jaraknya agak jauh dari rumah saya. Agak riskan juga kalau latihan malam. Nah makanya saya cari sanggar yang ada di Menes. Dan hei! Ternyata ada…… Baca lebih lanjut

Catatan Perjalanan Liburan Sehari di Jakarta

Having fun in a day

Having fun in a day

Buat orang Jakarta yang penat dengan semua aktivitas rutin yang dijalani sehari-hari, dan ingin refreshing namun hanya punya waktu libur sehari, kita bisa kok memanfaatkan waktu libur sehari itu dengan menyenangkan. Jakarta dengan cerita kemacetan yang tiada habisnya, masih bisa kita nikmati dengan mengunjungi beberapa tempat menarik yang ada di Jakarta.

Ini cerita pengalaman saya, ketika hanya diberi jatah waktu libur sehari oleh kantor, otomatis saya nggak bisa pulang kampung, tapi saya juga tetep ingin hari libur itu produktif and make me fun. Akhirnya saya memutuskan untuk keliling ibu kota dengan mengunjungi beberapa tempat wisata. Jadi buat kamu yang cuma punya waktu libur sehari, nggak perlu jauh-jauh libur ke luar kota kok. Di Jakarta juga banyak tempat yang bisa kita datangi. Mau wisata belanja, wisata kuliner, wisata alam, wisata sejarah, wisata edukasi, banyak banget pilihannya.

Nah kali ini, tujuan perjalanan saya ke Kota Tua, Pelabuhan Sunda Kelapa, dan Tanah Abang. Saya ditemani oleh teman saya, Puput namanya. Meeting point di Kota Tua sekitar jam 10. Janjian sih dari pagi, tapi karena satu dan lain hal alhasil baru ketemu jam 10😀

  1. Pelabuhan Sunda Kelapa (Kampung Nelayan dan Museum Bahari)

Dari Kota Tua kami langsung menuju Sunda Kelapa dengan menggunakan bajai. Tinggal bilang aja ke abang-abangnya minta diantar ke dermaga Sunda Kelapa. Jangan asal naik, tanya dulu berapa ongkosnya. Nanti bisa-bisa dimahalin. Padahal masih bisa ditawar *dasar ibu2, tukang nawar.😀 Kami naik bajai sepuluh ribu rupiah setelah si abang nawarin dua puluh lima ribu. Diantar sampai pintu gerbang masuk dermaga. Kalau bajai masuk ke dalam gerbang, ada pungutan biaya lagi. Nggak tau sih berapa, kami memutuskan untuk turun di depan gerbang dan jalan kaki menuju pelabuhan sunda kelapa. Baca lebih lanjut