GARA-GARA KWETIAU

Cerpen ini dimuat di Buku Gilalova#2

Senangnya, hari ini di sekolah pulang cepat. Katanya sih, ada rapat dewan guru. Tidak tahu rapat soal apa. Masa bodo. Yang jelas, saat ini aku merasa bahagia tak terkira. Karena aku bisa langsung menuju warung kwetiau buatan Kang Deni. Kwetiau Kang Deni terkenal murah untuk ukuran kantong siswa. Hanya lima ribu rupiah satu porsi. Tapi menurut aku, yang membuat spesial bukan saja harga dan rasanya, tapi juga penjualnya. Dia sangat tampan dan menawan. Kulitnya putih, berambut hitam belah tengah, dan bertubuh tinggi. Kang Deni asli orang Bandung yang sudah dua tahun mencari usaha di Pandeglang. Kira-kira, usianya masih 24 tahun. Sebelum buka usaha kwetiau, yang tempatnya tidak jauh dari sekolahku, dia bekerja di salah satu rumah makan di sebelah timur alun-alun Kota Pandeglang. Namun hanya bertahan lima bulan. Karena menurutnya, lebih baik buka usaha sendiri meskipun kecil-kecilan dari pada harus mengekor jadi karyawan usaha orang lain. Ya, aku tahu semua tentang penjual kwetiau ini karena aku sering mengajak dia ngobrol saat aku beli. Dan dia tidak pernah merasa keberatan meski dia sibuk memasak. Entah ini karena menghargai aku sebagai pembeli, entah karena si koki kwetiau ini memang terbuka pada siapa pun.

Oh ya, aku Belinda Siregar. Nama ini pemberian dari mama. Katanya, sejak mama hamil aku, mama sering nonton film telenofela Amigos X Siempre yang salah satu pemeran utamanya bernama Belinda, berperan sebagai Anna. Mama sangat menyukai Anna (Belinda) karena dia cantik dan pintar. Ada-ada saja memang, mama memberi aku nama terinspirasi dari sebuah film buatan Meksiko itu. Sedangkan Siregar adalah nama marga keluarga. Tapi bagiku, apalah arti sebuah nama. Jika konon nama ialah doa, berarti doa mama terkabul. Dengan nama Belinda ini aku tercipta sebagai gadis cantik, berkulit putih dan tinggi semampai. Kata mama memang mirip si Belinda Amigos itu, bedanya rambutku tidak pirang, hitam.

Aku sekarang kelas 1 di SMA 2 Pandeglang. Salah satu sekolah unggulan di Kabupaten Pandeglang. Setiap pulang sekolah, aku sering makan kwetiau buatan Kang Deni. Awalnya aku tidak suka kwetiau, tapi karena teman-teman selalu memaksaku ikut makan, ya sudah mau tidak mau. Dan akhirnya aku ketagihan, bukan lagi karena paksaan teman-temanku, tapi karena aku merasa terpikat saat pertama kali melihat si penjual kwetiaunya itu. Mungkin inilah namanya jatuh hati pada pandangan pertama. Ya Tuhan, benarkah?

Kalau dipikir-pikir, sedikit konyol memang. Masak iya aku bisa jatuh hati pada si penjual kwetiau? Hati memang sulit ditebak. Entah maunya apa. Tiba-tiba saja aku terperangkap untuk menyukai sosok Kang Deni si penjual kwetiau rupawan itu. Andai dia bukan penjual kwetiau, mungkin aku sudah berada didekatnya sebagai sang kekasih. Gengsi juga sih, masak iya aku pacaran sama tukang kwetiau, tapi inilah kenyatannya, aku jatuh cinta pada Kang Deni. Cinta memang datang tidak terduga, dia muncul secara misterius dan kadang menggila. Seperti yang aku alamai saat ini. Setiap kali aku lihat kwetiau, aku pasti ingat Kang Deni. Aku membayangkan bagaimana dia memasak kwetiau dengan lihainya, ditambah dengan senyum manis yang selalu dia tebarkan pada setiap pembeli yang datang. Makanya, setiap dengar nama kwetiau, tanpa komando memori otakku langsung tertuju pada sebuah nama; Kang Deni. Ah! Kenapa mesti kwetiau, kenapa tidak bakpau, cingcau, atau apalah. Gara-gara kwetiau ini aku cinta sama Kang Deni.
***
Pagi ini aku bangun lebih awal. Karena aku ada janji dengan Nadia dan Silvi untuk tiba di sekolah lebih pagi. Karena ada yang harus aku bicarakan pada mereka.

“Eh lo yang bener aja bisa cinta sama tukang kwetiau? Si Andrian mau dikemanain?” Nadia sok berat mendengar cerita bahwa aku suka sama Kang Deni. Aku hanya cengengesan tidak jelas.
“Gila lo ya, udah sukur lo punya cowok Ketua OSIS, cewek-cewek di sekolah ini aja rebutan sampe taruhan buat ngedapetin tuh si Andrian. Eh lo malah cinta sama tukang kwetiau lagi, hahaha, nggak waras ni anak,” ledek Silvi.

Nadia dan Silvi adalah sahabatku. Kami bertiga bersahabat sejak pertama kali masuk sekolah. Kami bertiga bisa dibilang Tiga Diva-nya seluruh kelas 1 di sekolah. Kami bertiga cantik, dan selalu menjadi bintang di kelas. Sedangkan Andrian, cowok manis, hidung mancung, dan berkarisma itu kakak kelasku, dia Ketua OSIS dan baru tiga bulan ini menjadi kekasihku. Aku bangga dan bahagia, karena saat para cewek mengejar-ngejar Andrian, doi malah lebih memilih aku. Selama pacaran pun aku bahagia di sampingnya. Dia sangat baik, dan tentu saja pintar. Kadang dia selalu membantu aku dalam mengerjakan PR. Wajar saja, kalau teman-temanku apalagi kakak kelasku ngiri padaku yang bisa mendapatkan hati Andrian. Tapi, entah kenapa setelah aku kenal Kang Deni sebulan lalu, perasaanku menjadi terbagi seperti ini.

“Hehe, biasa aja jeng, nggak usah sewot gitu dong. Gue juga bingung sama perasaan gue sendiri. haha,” kataku tidak menanggapi serius.
“Yah lo gimana sih, ini masalahnya udah emergency. Melanggar Undang-undang persahabatan kita tau!” sentak Nadia.
“Iya, jangan sok pura-pura lupa deh lo. Gue ingetin lagi ya, dalam undang-undang persahabatan, kita nggak boleh main-main dengan cinta! Apalagi sampai ngeduain. Gimana coba kalau lo diduain, diselingkuhin, dipermainkan cinta lo, mau nggak? Cinta bukan untuk dipermainin. Lupa lo?” Silvi tidak kalah menyentak aku dengan ucapan tajam. Sementara aku masih belum menanggapi dengan serius.
“Iya juga ya, gue lupa tuh. Tapi, lo nggak ngerasain apa yang gue alamin sih. Gue sayang banget sama Andrian, gue nggak mau kehilangan dia. Tapi gue udah terlanjur jatuh hati sama Kang Deni,” kataku. Mereka hanya bisa diam dengan wajah kecut.

Teng teng teng teng! Bel tanda masuk berbunyi membuat seluruh siswa masuk ke kelas masing-masing.
***
Malam ini sangat indah, malamku berselimutkan langit hitam bertaburan kerlipan bintang yang memberikan senyum manis kepadaku. Semakin lama ku pandangi langit, semakin tampak wajah seseorang yang memberikan senyuman. Senyuman yang sangat manis. Lama-lama wajah itu tampak jelas di mataku. Kang Deni! Wajah kang Deni kembali terbayang dalam benakku. Apakah aku ini benar-benar jatuh hati padanya? Ya, benar. Aku jatuh cinta. Saat ini perasaanku tidak karuan. Bagaimana bisa aku mencintai Kang Deni sementara aku sudah jelas milik Andrian. Apa karena ketampanan Kang Deni yang membuat cinta aku terasa buta? Tapi, selain tampan, Kang Deni memang begitu baik. Apalagi saat ini kami jauh lebih dekat hubungannya. Kami mulai ber-SMS-an ria. Bahkan sesekali saling menelpon. Awalnya aku meminta nomor telepon genggamnya dengan dalih agar bisa delivery. Semakin dekat aku dengannya, semakin memuncak perasaan ini padanya. Karena aku semakin mengenal dia. Dia pun seolah tidak keberatan dekat denganku. Aku menjalin kedekatan dengannya tanpa sepengetahuan Andrian. Sehingga hubunganku dengan Andrian pun baik-baik saja. Namun kedekatan antara aku dengan Kang Deni tidak ada ikatan, aku malu untuk tidak mengungkapkan perasaanku kepadanya. Biar saja aku pendam rasa ini. Dengan dekat dengannya pun walau tanpa ada status yang jelas sudah membuat aku bahagia.

Jika dipikir secara logika memang aku gila, menduakan kekasih dengan seorang pedagang kwetiau. Kedekatan ini pun tidak diketahui juga oleh kedua sahabatku yang jelas-jelas melarangku jatuh cinta dengan Kang Deni. Tapi inilah cinta. Aku tidak peduli apakah sahabtku masih menerimaku atau tidak. Aku pun tidak peduli Kang Deni penjual kwetiau atau bukan. Yang pasti, aku sangat bahagia mendapatkan dua pria yang sangat baik. Andrian manis, dan Kang Deni tampan. Aku sayang mereka.
***
“Belinda, aku mau bicara, ikut aku ke taman.” Ujar Andrian tanpa ekspresi, dingin.
“Ada apa sayang? Serius gitu mukanya, senyum dikit pasti tambah ganteng,” aku mencoba mencairkan suasana dengan kemanjaanku. Ternyata Andrian tidak menggubris sikapku. Dia tetap melangkah menuju taman. Jantungku berdekup kencang, karena tidak biasanya Andrian seperti ini. Kakiku terasa berat melangkah mengikuti langkah Andrian yang semakin cepat. Semakin cepat aku melangkah, semakin cepat pula detak jantungku. Sementara pikiranku masih melayang memikirkan apa yang akan dibicarakan Andrian.

“Mulai saat ini, mulai detik ini, nggak ada lagi kata sayang, nggak ada lagi kata cinta. Semuanya udah jelas, nda. Aku udah tahu semua apa yang telah kamu lakukan di belakangku,” kata Andrian sesampai di taman. Ucapan itu sungguh membuat jantungku hampir copot. Nafasku tersendat. Kaget!

“Eh, Andrian, tunggu biar aku jelasin,”
“Cukup! Kamu nggak perlu menjelaskan apa-apa lagi. Aku udah lihat dengan mata kepalaku sendiri kamu jalan berduaan di alun-alun kemarin sore dengan si penjual kwetiau itu. Awalnya aku nggak percaya begitu Nadia bilang kalau kamu cinta sama si Deni. Tapi setelah aku lihat sendiri, aku percaya sekarang, aku mau kita putus.” Ucapan itu semakin membuat aku sakit. Seolah nafasku terhenti. Aku diam tanpa kata melihat Andrian meninggalkanku.
Andrian, kamulah lelaki idamanku. Aku sungguh mengagumi dan mencintaimu. Mengapa kamu meninggalkanku begitu cepat? Aku hanya bisa berucap sendiri di taman yang sepi. Mata ku berkaca-kaca, butiran air bening jatuh membasahi pipi. Aku SMS Nadia agar menemuiku, namun sama sekali dia tidak membalas SMS-ku. Aku telpon Silvi, nihil. Kemanakah kalian saat aku butuh? Apakah kalian akan meninggalkanku layaknya Andrian? Hatiku menjerit. Namun aku tidak ingin larut dalam kesedihan, biarlah Andrian pergi. Aku belajar merelakan.

“Gue bilang juga apa, lo jangan mainin perasaan si Andrian yang bener-bener tulus mencintai lo,” kata Nadia.
“Gara-gara lo juga sih yang ngasih tahu ke Andrian kalau gue suka sama Kang Deni,” kataku.
“Eh, nda. Asal lo tahu ya, waktu gue bilangin ke si Andrian juga dia nggak percaya sama gue, dia yakin kalau lo nggak bakal macem-macemin dia. Tapi gue percaya, sepinter-pinternya orang nyimpen duren, ketahuan juga baunya. Ngertikan lo maksud gue? Kalau pun gue bilang ke si Andrian juga karena gue peduli sama hubungan lo berdua,” ceros Nadia membuat aku bisu.
“Lo nggak mau dikasih tahu sih, udah gue ingetin lo tentang aturan persahabatan kita, masih aja lo ngelanggar. Lo malah makin jadi aja tuh sama si Kang Deni. Gue akuin, dia emang baik, ganteng, gue juga heran kenapa dia milih jadi pedagang kwetiau, kenapa nggak jadi artis bolly wood aja, tapi lo nggak harus mainin perasaan si Andrian, apalagi ngeduainnya sama Kang Deni, jaim dikit kenapa sih lo,” Silvi menimpali membuat aku semakin beku. Tidak bisa berucap, hanya air mata yang mewakili ucapanku. Lama aku terdiam.

“Maafin gue, jujur gue masih cinta sama Andrian. Buat ngedapetin hatinya aja susah. Tapi untuk saat ini gue juga belum bisa jauh dari Kang Deni, bantu gue,” aku memelas.
“Maafin gue juga, nda. Gue nggak bisa bantu kalau lo masih tetap kayak gitu,” ujar Silvi.
“Gue juga nggak mau bantu orang yang salah, nda,” Nadia dan Silvi pergi meninggalkanku yang masih setia ditemani air mata luka.

Andrian, aku mohon jangan tinggalkan aku. Betapa indah perjalanan kisah asmara aku denganmu. Kita lalui dengan canda tawa penuh kebahagiaan. Aku belum siap menerima kepahitan ini. Sedih rasanya aku harus pergi darimu. Mencoba untuk merelakan namun aku tidak sanggup. Sungguh aku masih mencintaimu. Haruskahku menemuimu dan memohon agar kamu kembali dalam pelukanku, Andrian? Ya, mungkin tidak ada salahnya jika aku menemuinya kembali dan meminta kesempatan kedua.

Aku semakin tidak punya malu. Seharusnya aku ingat kata sahabatku, aku harus jaga image. Namun kini nasi sudah menjadi bubur. Aku ditolak mentah-mentah oleh Andrian. Hatiku lebih terpuruk. Sakit. Dia tidak mau memaafkan aku yang telah menduakannya.
***
Kini aku merasa lebih sakit. Hatiku hancur lebur berkeping-keping. Perasaanku kacau berantakan tak tertahankan. Rasa sakit ini melebihi rasa sakit saat Andrian meninggalkan aku. Aku sakit hati untuk kedua kalinya. Namun kali ini sakit hati oleh Kang Deni yang selama ini aku cintai sepenuh hati. Rela aku berkorban menanggung rasa malu di hadapan sahabatku karena aku jatuh cinta pada penjual kwetiau. Ternyata apa yang selama ini aku pikirkan tentangnya sama sekali berbeda dengan kenyatahan pahit ini. Diam-diam Kang Deni sudah mempunyai kekasih yang telah menjalin hubungan dua tahun. Kenapa tidak bilang sebelumnya Kang Deni?! Tahu gini aku tidak akan berharap lebih. Ternyata selama ini dia hanya menganggapku sebagai adik, tidak lebih. Ya Tuhan, aku hancur. Aku telah kehilangan dua lelaki yang aku cintai.

Nadia, Silvi, maafkan aku karena aku tidak mengikuti saran kalian. Kini ku akui, aku memang bodoh. Aku benar-benar salah. Aku harap kalian tidak pergi meninggalkanku layaknya Andrian dan Kang Deni. Dan aku sadar, cinta itu buta karena hanya dilihat dengan mata kepala sesaat. Padahal cinta tidak buta jika kita melihat dan menjalaninya dengan mata hati yang tulus dan suci. Cinta bukan untuk dipermainkan, bahkan diduakan. Benar apa yang dinyanyikan Bondan Prakoso, cukup satu waktu untuk satu cinta. Kini aku sendiri. Sunyi. Sepi karena ulahku sendiri. Saatku berharap keramahan cinta, tak pernah kudapat, ya sudahlah….

“Kamu nggak sendiri kok Belinda, kami disini akan selalu bersamamu,” tiba-tiba Nadia dan Silvi mengagetkanku seolah mengethaui apa yang sedang aku pikirkan. Aku langsung menyambar dan memeluk mereka. Terima kasih sobat.

2 responses to “GARA-GARA KWETIAU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s