Mengenal Kecamatan Menes

Penjara Bekas Zaman Belanda

Bekas Penjara Sipir Belanda. Terletak di sebelah utara Alun-alun Menes

Saya lahir dan tumbuh besar di Menes. Pada 12 Juni 1990 pertama kalinya saya menghirup udara segar Menes setelah sembilan bulan dalam kandungan ibu. Ya, udara di Menes memang segar. Secara iklim, Menes tidak mengalami perubahan iklim secara signifikan dari masa ke masa. Sejak dulu, hingga kini udara sejuk dan segar selalu mewarnai daerah yang memiliki luas 25,362 km² ini.

Pada 537 tahun lalu, atau pada abad ke 15, Menes merupakan wilayah perkebunan milik Arturo Ji Menez berkebangsaan Portugis. Kala itu, dia adalah orang pertama menjadi seorang tuan tanah yang membuka lahan perkebunan di wilayah tersebut. Untuk itu, nama Menes, berasal dari namanya, Arturo Ji Menez. Sejak saya dilahirkan di daerah agraris ini, memang di setiap titik wilayah terdapat pepohonan, perkebunan, atau sawah-sawah nan hijau membentang luas. Hingga kini, meskipun penduduk Menes kian bertambah dan saat ini memiliki jumlah penduduk mencapai 37.652 jiwa, daerah Menes tetap hijau.

Menes, juga merupakan salah satu tempat yang pernah disinggahi para kolonial. Pada tahun 1883, sejak terjadi bencana Tsunami dan meletusnya Gunung Krakatau, pemerintahan Belanda atau Distrik Kulon yang tadinya berlokasi di Caringin, sebagai tempat Kadipaten Banten Kulon pindah ke Menes dan melanjutkan masa pemerintahannya di Menes. Hingga saat ini, bangunan Belanda tersebut kokoh dan berada di beberapa titik wilayah Menes. Seperti Pancaniti yang berada di alun-alun timur Menes, Kwadanaan yang letaknya bersebrangan dengan alun-alun, bui atau penjara yang berada di sebelah barat alun-alun, serta patung kuda di depan Kwadanaan. Patung kuda tersebut sebagai simbol bahwa pada masa Kadipaten, kuda adalah alat kendaraan Adipati. Bangunan-bangunan tersebut masih dilestarikan oleh masyarakat Menes. Bahkan, Kwadanaan kini menjadi kantor kecamatan Menes. Di Menes terdapat tempat peninggalan dari zaman megalitikum, zaman kesultanan hingga zaman penjajahan. Seperti pada zaman megalitikum yakni Batu Go’ong Citaman, situs batu tulis Muruy, situs Alaswangi dan lainnya. Sedangkan pada zaman kesultanan banyak terdapat masjid-masjid yang dibuat pada zaman itu yang usianya ratusan tahun.

Salah satu budaya kental bagi masyarakat Menes, adalwoke, listedah soal agama. Pada masa setelah penjajahan Belanda, Menes tidak menerima orang yang bukan beragama Islam sebagai bentuk perlawanan atas Kesultanan Banten pada masa Ratu Wakil terhadap bangsa kolonial. Sejak para penjajah datang, kesultanan di Menes memang sudah terbentuk. Beberapa Sultan hijrah ke Gunung Karang, Ciomas, Sukabumi, Cirebon, dan daerah lain untuk menyebarluaskan agama Islam. Barulah setelah Belanda hengkang, para sultan kembali kemudian menyiarkan agama Islam juga mendirikan tempat pendidikan. Sebut saja nama KH Mas Abdurrahman yang berperan penting dalam memajukan dunia pendidikan di Indonesia, terutama di wilayah Banten. Salah satu kontribusinya dalam bidang pendidikan adalah perguruan pendidikan Islam Mathla’ul Anwar (MA) yang terletak di Menes, Pandeglang, Banten. Hingga kini perguruan MA itu masih berdiri kokoh dan sudah menyebar ke penjuru nusantara.MA mendirikan lembaga pendidikan mulai dari TK hingga perguruan tinggi. Mas Abdurrahman adalah salah satu tokoh yang menebarluaskan ajaran Islam dan berkonstribusi besar untuk memajukan pendidikan di Menes. Di Menes banyak pondok pesantren salafiah yang masih mengakar sampai saat ini, karena hampir di tiap desa terdapat pondok pesantren salafiah.
Menurut Sejarawan Wachyudin, kekhasan Menes adalah kentalnya menganut agama, dan memiliki karakter kuat yang mencirikan dirinya seorang warga Menes ditinjau dari beberapa aspek. Dari aspek budaya, orang Menes memiliki system kekerabatan yang kuat. Komunikasi kohesi mereka sangat terjalin dengan kuat. Sampai saat ini, yang saya rasakan pun demikian. Hubungan atau komunikasi antarpersonal bagi masyarakat Menes terjalin kedekatan emosi. Meskipun tidak saling kenal, mereka biasa berkomunikasi seolah-olah lawan bicaranya adalah kerabat sendiri. Ini adalah karakter yang khas yang mencirikan tipe masyarakat Menes.
Dari perekonomian, karena Menes adalah wilayah agraris maka sebagian besar penduduk Menes berprofesi sebagai petani.

Selain itu, sebagai pegawai negeri sipil, dan wiraswasta. Menes, sangat terkenal dengan makanan khas bernama emping dan balok. Emping adalah makanan sejenis kerupuk yang terbuat dari melinjo. Di Menes, hanya 1 km dari tempat tinggal saya, terdapat Asosiasi Pengrajin Emping (APE). Di sini, emping dikelola dan diproduksi ke berbagai daerah. Bahkan hingga ke manca Negara. Karenanya, oleh Pemerintah daerah, Menes ditetapkan sebagai kawasan agropolitan sebagai penghasil utama emping melinjo. Sementara balok, adalah kue yang terbuat dari singkong yang memiliki rasa khas. Kue balok terdiri dari dua macam. Yaitu balok merah dan balok putih. Disebut balok merah karena saat menumbuk singkong ditambah gula merah, disajikan dengan ampas kelapa. Sedangkan balok putih tanpa tambahan gula merah, tapi di dalamnya dimasukan bumbu serundeng di atasnya ditaburi bawang goreng. Singkong banyak ditanam di Menes dengan produksi 2.283 ton per tahun yang ditanam di atas lahan 233 hektare. Di Menes juga terdapat peternakan domba dengan produksi rata-rata 5.743 ekor per tahun. Dari banyaknya potensi alam yang dimiliki, memberikan sektor perekonomian yang baik bagi daerah Menes.

Sementara dari aspek pendidiSalah satu budaya kental bagi masyarakat Menes, adalwoke, listedah soal agama. Pada masa setelah penjajahan Belanda, Menes tidak menerima orang yang bukan beragama Islam sebagai bentuk perlawanan atas Kesultanan Banten pada masa Ratu Wakil terhadap bangsa kolonial. Sejak para penjajah datang, kesultanan di Menes memang sudah terbentuk. Beberapa Sultan hijrah ke Gunung Karang, Ciomas, Sukabumi, Cirebon, dan daerah lain untuk menyebarluaskan agama Islam. Barulah setelah Belanda hengkang, para sultan kembali kemudian menyiarkan agama Islam juga mendirikan tempat pendidikan. Sebut saja nama KH Mas Abdurrahman yang berperan penting dalam memajukan dunia pendidikan di Indonesia, terutama di wilayah Banten. Salah satu kontribusinya dalam bidang pendidikan adalah perguruan pendidikan Islam Mathla’ul Anwar (MA) yang terletak di Menes, Pandeglang, Banten. Hingga kini perguruan MA itu masih berdiri kokoh dan sudah menyebar ke penjuru nusantara.MA mendirikan lembaga pendidikan mulai dari TK hingga perguruan tinggi. Mas Abdurrahman adalah salah satu tokoh yang menebarluaskan ajaran Islam dan berkonstribusi besar untuk memajukan pendidikan di Menes. Di Menes banyak pondok pesantren salafiah yang masih mengakar sampai saat ini, karena hampir di tiap desa terdapat pondok pesantren salafiah. Menurut Sejarawan Wachyudin, kekhasan Menes adalah kentalnya menganut agama, dan memiliki karakter kuat yang mencirikan dirinya seorang warga Menes ditinjau dari beberapa aspek. Dari aspek budaya, orang Menes memiliki system kekerabatan yang kuat. Komunikasi kohesi mereka sangat terjalin dengan kuat. Sampai saat ini, yang saya rasakan pun demikian. Hubungan atau komunikasi antarpersonal bagi masyarakat Menes terjalin kedekatan emosi. Meskipun tidak saling kenal, mereka biasa berkomunikasi seolah-olah lawan bicaranya adalah kerabat sendiri. Ini adalah karakter yang khas yang mencirikan tipe masyarakat Menes. Dari perekonomian, karena Menes adalah wilayah agraris maka sebagian besar penduduk Menes berprofesi sebagai petani. Selain itu, sebagai pegawai negeri sipil, dan wiraswasta. Menes, sangat terkenal dengan makanan khas bernama emping dan balok. Emping adalah makanan sejenis kerupuk yang terbuat dari melinjo. Di Menes, hanya 1 km dari tempat tinggal saya, terdapat Asosiasi Pengrajin Emping (APE). Di sini, emping dikelola dan diproduksi ke berbagai daerah. Bahkan hingga ke manca Negara. Karenanya, oleh Pemerintah daerah, Menes ditetapkan sebagai kawasan agropolitan sebagai penghasil utama emping melinjo. Sementara balok, adalah kue yang terbuat dari singkong yang memiliki rasa khas. Kue balok terdiri dari dua macam. Yaitu balok merah dan balok putih. Disebut balok merah karena saat menumbuk singkong ditambah gula merah, disajikan dengan ampas kelapa. Sedangkan balok putih tanpa tambahan gula merah, tapi di dalamnya dimasukan bumbu serundeng di atasnya ditaburi bawang goreng. Singkong banyak ditanam di Menes dengan produksi 2.283 ton per tahun yang ditanam di atas lahan 233 hektare. Di Menes juga terdapat peternakan domba dengan produksi rata-rata 5.743 ekor per tahun. Dari banyaknya potensi alam yang dimiliki, memberikan sektor perekonomian yang baik bagi daerah Menes. Sementara dari aspek pendidikan, Menes terkenal dengan sebutan Kota pelajar di kabupaten Pandeglang. Sesuai sejarah seperti yang sudah diuraikan sebelumnya, pada zaman dulu, para tokoh memang fokus terhadap dunia pendidikan di Menes. Wachyudin mengatakan, tingkat pendidikan di daerah Menes cenderung tinggi. Para orangtua menyadari bahwa pendidikan adalah penting bagi masa depan anaknya. Sehingga rata-rata penduduk Menes adalah SMA dan perguruan tinggi. Selama saya tinggal di Menes, anak muda di Menes memang bersekolah. Bahkan ada yang melanjutkan ke perguruan tinggi di luar daerah. Seperti ke UNPAD, UI, ITB, UPI, IPB, STAN, Tri Sakti, bahkan ada yang ke luar negeri. Meskipun Menes terletak di wilayah selatan atau kulon, tapi tingkat kepedulian terhadap pendidikan sangat tinggi. Di Menes sendiri terdapat berbagai lembaga pendidikan dari kelompok bermain, taman kanak-kanak, sekolah dasar, sampai perguruan tinggi. Bahkan beberapa lembaga pendidikan non formal juga tersebar di wilayah Menes. Seperti Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Berkah yang membuka jasa kursus bahasa inggris, komputer, menahit, perpustakaan, sarana olahraga, dan jasa-jasa lain yang bisa meningkatkan ilmu pengetahuan. Terdapat juga rumah baca di Kampung Cimedang, dan juga terdapat sebuah klub yang concent dalam mengembangkan kreativitas anak muda di Menes. Klub ini disebut dengan smart club (SC) yang memiliki anggota sebanyak 2000 orang. Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, karakter orang Menes memang khas. Wachyudin memaparkan, karakter orang Menes selain adanya hubungan kedekatan saat berkomunikasi, peduli terhadap pendidikan, religious, dan resistensi mempertahankan nilai budaya dan kepercayaan di Menes sangat kuat. Ketika ada sesuatu hal yang menurutnya bertentangan, serta merta tanpa basa basi pasti akan menolak. “Tipikal orang Menes adalah blak-blakan, berterus terang, keras, jika tidak ya bilang tidak dengan tegas,” ujar lulusan Ilmu Sejarah UNPAD ini. Karakter-karakter seperti ini secara tidak langsung menurun kepada anak cucunya. Meskipun berada di luar daerah, Wachyudin mengatakan, orang Menes pasti ketahuan. “Tidak sedikit juga warga Menes yang berada di luar daerah, tapi saat bertemu sesama orang Menes saat di luar daerah tersebut, mereka tampak seperti keluarga sendiri,” tutup dosen sejarah di STKIP Rangkasbitung ini.kan, Menes terkenal dengan sebutan Kota pelajar di kabupaten Pandeglang. Sesuai sejarah seperti yang sudah diuraikan sebelumnya, pada zaman dulu, para tokoh memang fokus terhadap dunia pendidikan di Menes. Wachyudin mengatakan, tingkat pendidikan di daerah Menes cenderung tinggi. Para orangtua menyadari bahwa pendidikan adalah penting bagi masa depan anaknya. Sehingga rata-rata penduduk Menes adalah SMA dan perguruan tinggi. Selama saya tinggal di Menes, anak muda di Menes memang bersekolah. Bahkan ada yang melanjutkan ke perguruan tinggi di luar daerah. Seperti ke UNPAD, UI, ITB, UPI, IPB, STAN, Tri Sakti, bahkan ada yang ke luar negeri. Meskipun Menes terletak di wilayah selatan atau kulon, tapi tingkat kepedulian terhadap pendidikan sangat tinggi. Di Menes sendiri terdapat berbagai lembaga pendidikan dari kelompok bermain, taman kanak-kanak, sekolah dasar, sampai perguruan tinggi.

Bahkan beberapa lembaga pendidikan non formal juga tersebar di wilayah Menes. Seperti Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Berkah yang membuka jasa kursus bahasa inggris, komputer, menahit, perpustakaan, sarana olahraga, dan jasa-jasa lain yang bisa meningkatkan ilmu pengetahuan. Terdapat juga rumah baca di Kampung Cimedang, dan juga terdapat sebuah klub yang concent dalam mengembangkan kreativitas anak muda di Menes. Klub ini disebut dengan smart club (SC) yang memiliki anggota sebanyak 2000 orang.

Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, karakter orang Menes memang khas. Wachyudin memaparkan, karakter orang Menes selain adanya hubungan kedekatan saat berkomunikasi, peduli terhadap pendidikan, religious, dan resistensi mempertahankan nilai budaya dan kepercayaan di Menes sangat kuat. Ketika ada sesuatu hal yang menurutnya bertentangan, serta merta tanpa basa basi pasti akan menolak. “Tipikal orang Menes adalah blak-blakan, berterus terang, keras, jika tidak ya bilang tidak dengan tegas,” ujar lulusan Ilmu Sejarah UNPAD ini.

Karakter-karakter seperti ini secara tidak langsung menurun kepada anak cucunya. Meskipun berada di luar daerah, Wachyudin mengatakan, orang Menes pasti ketahuan. “Tidak sedikit juga warga Menes yang berada di luar daerah, tapi saat bertemu sesama orang Menes saat di luar daerah tersebut, mereka tampak seperti keluarga sendiri,” tutup dosen sejarah di STKIP Rangkasbitung ini.

3 responses to “Mengenal Kecamatan Menes

  1. itu salah satu versi tentang nama kota menes diambil dari mr menez,tapi versi yg lain kata menes diambil dari kata kamonesan,yg artinya kehebatan atau kejayaan.kata ini muncul ketika sultan banten mau menyiarkan agama islam,yg akhirnya mendapat perlawanan dari orang denggung,singkat kata tetengga kampung yg namanya sekarang jadi kampung menes,membantu sultan banten untuk menaklukan orang denggung yg pemimpinnya sangai sakti,konon mengalahkanya dengan cara mengadu kekuatan bayi/orok untuk makan sambal yg pedas.akhirnya orang denggung bisa dikalahkan,.tempat pertahanan penduduk yg membantu sultan banten sampai sekarang di kenal dengan nama kampung benteng,yg terletak di perempatan cimanying,sedangkan kampung denggung ada di sebelahnyaa sebagai penghargaan kepada yg membantu penyiaran agama islam di menes sultan banten memberi gelar entol untuk para cowok dan ayu untuk para cewek……..makanya sampai sekarang ada gelar entol dan ayu di menes dan juga ada istilah orok menes beuki sambel,yg menynjukan kehebatan orang menes lol……….makasi……..hatur nuhun,,,,,,,

  2. Satu hal yg amat terkenal dan unik (mones) dari masyarakt Menes (x kwadanaan/distrik Menes) meliputi: kec. menes, saketi, cisata, cikedal, pulosari, jiput saat ini adalah bahasa. bahasa sunda dengan dialek Banten yg khas sejaln dngn budaya egaliter masyrkt Banten.

    pasca 1883 Menes memiliki peranan penting sebagai pusat pemerintahan Banten kulon sampai thn 1885an sblm akhirnya pusat pemerintahan di pindahkan ke Pandeglang. mengenai perihal tersebut, amat sangat minim sumber mengenai sejarah kota kecil ini “dari Mones ke Menes”.
    padahal Menes memiliki sistem tata kota (macapat) yg sudah tertata rapi, dngn alun2 yg cukup luas dan bangunan yg disesuaikn dngn fungsinya pd masa tsbt. semoga peninggalan tsb menjadi suatu bukti yg patut dibaca untuk dipelajari dan difahami oleh generasi saat ini dan selanjutnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s