Visit The University Of Sydney

Senin, 21 Oktober 2013

IMG_4094Alarm Iphone 4 ku berdering tepat pukul 5 pagi. Aku bergegas ke kamar mandi untuk wudhu dan sembahyang subuh.  Usai menunaikan solat dua rakaat, aku kembali baring dibalut selimbut putih yang sudah merayuku untuk tidur kembali. Seperti jadi kebiasaan disini, usai solat tidur lagi😀

Tepat pukul 7.00, alarm kembali berdering. Aku bergegas ambil handuk untuk segera mandi. Di dapur, aku bertemu Melanie dan Andre. “Hello, good morning!” Sapa Melanie. Menyapa seseorang adalah hal yang biasa di Australia. Misalnya saat pagi, atau saat bertemu seseorang di jalan, mereka mengucapkan hello, hi, good morning, good day, atau sebelum tidur mereka juga mengucapkan good night, have a nice dream, dan sapaan-sapaan lain. Orang Australia juga senang memuji dan mengeluarkan kata-kata positif. Great, lovely, good, terrific, awesome, dan pujian lain. Menurutku, ketika mendengar kata-kata itu maka energi positif mengalir pula. Tapi jangan salah juga, orang Australia memang lebih suka bicara apa adanya dan di depan kita. Kalau memang menurut mereka bagus, mereka akan bilang bagus. Kalau kata mereka jelek, maka akan bilang jelek pula.

***

AIYEPers 2013 at Univ os Syd

AIYEPers 2013 at Univ of Syd

Sebenarnya hari ini adalah hari ke-delapan aku dan teman-teman ada di Sydney, tapi memang baru hari ketiga kami mencar. Berpisah karena harus tinggal dengan orangtua angkat masing-masing. Dan hari Senin ini, adalah Senin pertama kami harus Culture Performance untuk Adik AIYEP di The University of Sydney.

Gak pernah kebayang sebelumnya, aku bisa menginjakkan kaki di kampus megah dan tersohor ini. Tapi satu hal yang aku yakini, bermimpi adalah kekuatan besar yang bisa mewujudkan harapan. Dan ternyata, aku bisa mewujudkan salah satu impianku saat ini. Agnes Monica sering bilang, Dream, Believe, and Make It Happen! Nidji pun berdendang, “mimpi adalah kunci untuk kita menaklukan dunia.” Mungkin masih banyak yang beranggapan, mana mungkin bisa ke luar negeri? Guys anggapan seperti itu berlaku buat orang-orang yang gak punya mimpi, kita gak akan tau keajaiban apa yang akan terjadi di kemudian hari. Tapi dengan mimpi, kita bisa merencanakan akan menjadi apa kita nanti, so dare to dream! Masih gak percaya? Aku membuktinya. Anak kampung yang akhirnya bisa ke luar negeri, seperti hari ini.

Di Adik AIYEP, kami performed empat kesenian yaitu tarian Indang dari Padang, Saman dari Aceh, Dansa Ola-ola dari Maluku, dan terakhir Medley di hadapan mahasiswa the University of Sydney dan belasan siswa SMP dari Monte Sant Angelo College. Sebelumnya, kami mengenalkan permainan tradisional seperti bola bekel dan ular naga. Mereka tampak gembira. Senang rasanya….😉

Ada juga diskusi ringan tentang sport, daily life dan food and tourism. Dengan penuh semangat, aku dan teman-teman mencoba memberikan yang terbaik di setiap kegiatan. Di akhir acara ada Dress Up Traditional Costumes. Acara yang satu ini juga gak kalah serunya, si bule-bule itu tampak cantik memakai pakaian tradisional kami. Satu hal yang menjadi pelajaran untuk lebih mencintai Indonesia adalah, Indonesia memang benar-benar kaya akan keanekaragamannya. Perbedaan pakaian adat, bahasa, tarian, dan budaya, sangat disayangkan jika menimbulkan konflik. Aku benar-benar melihat semua itu saat ini. Aku dan teman-teman dari daerah yang berbeda menyatukan perbedaan itu demi satu kata, INDONESIA.

1379500_10151708314783693_908259872_n

FGD

FGD

Dress Up Traditional Costumes

Dress Up Traditional Costumes

wif ADIK AIYEP 2013

wif ADIK AIYEP 2013

nari Saman

nari Saman

1380249_10151708313503693_1420164640_n

Kakek-Nenek Ngampus

Masih di  University Of Sydney. Bahagia dan lelah menyatu. Usai Culture Performance, aku capek sekali. Tapi aku gak bisa langsung pulang karena harus menunggu Oma Marty yang akan ikut forum diskusi tentang Imigran dan Para Pencari Suaka di kampus Univ Sydney. Aku dan trio wekwek (mau gak mau) ikut Oma Marty di acara diskusi dari jam 5-7 sore di kampus ini. Saat itu Oma ditemani oleh temannya, sudah tua juga. Dalam forum diskusi, gak hanya mahasiswa, kalangan manapun bisa ikut. Aku juga melihat beberapa orang kakek nenek yang seusia Oma Marty ikut dalam forum tersebut.

Aku tersadar dengan perkataan Oma Marty yang menusuk dan menghujam jantungku. Bagai disambar petir rasanya perkataan Oma. Sebelum diskusi dimulai, aku ngobrol kecil dengan Oma, aku bilang bahasa inggris ku masih buruk. Oma memotivasiku, sambil mengoreksi bahasa inggrisku, Oma bilang kalau beliau juga masih perlu belajar meski sehari-hari berbahasa inggris dan pernah mengajar Bahasa Inggris. Maka jangan pernah berhenti untuk belajar dan berlatih. Belajar apapun itu! “Kita sampai kapanpun adalah pembelajar, karena ilmu tidak akan pernah habis untuk dipelajari!” Jleb! Nenek yang usianya 85 tahun aja semangat belajarnya masih sangat tinggi. “Tuntutlah Ilmu dari Buayan Sampai Ke Liang Lahat” telah dibuktikan oleh Oma Marty. Bagai tersambar petir rasanya, aku yang masih muda, masih sehat dan tau ayat dan hadits tentang menuntut ilmu kadang pernah merasa malas untuk belajar. Oh Tuhan!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s