Bu Atut, Apa Salahku?

Hiks. Udah lama banget blog ini dianggurin. Padahal, sebenarnya banyak hal yang bisa ditulis dan di posting, tapi yaa karena alasan klasik yang sering menyerang, jadilah blog ini bernasib malang. hmm… i’m sorry my dear blog :(

Anw, gue nulis kali ini juga bukan karena lagi kesambet virus rajin nulis. Tapi emang gue pengen ‘muntahin’ semua keluh kesah gue. Gak layak dibaca sumpah. Tapi kalau keluh kesah ini cuma  dipendam dihati, gak baik juga buat bathin gue. Dan gue gak tau harus cerita ke siapa lagi soal masalah spele yang bikin muak ini.

Baiklah, ini soal Bu Atut. Tau kan lo? Gue yakin dari mulai jabang bayi sampe kakek-nenek pun tau siapakah gerangan Bu Atut itu. Ya, dia adalah ‘Ratu’ Banten yang sekarang ada dibalik jeruji besi karena kasus korupsi. Mayoritas masyarakat Banten termasuk gue girang KPK bisa mengungkap dan menangkap satu-satunya Gubernur perempuan di Indonesia itu. Masalahnya sama gue adalah…… gue malu, gue selalu kena imbas negatif dari kasus korupsi yang dilakukan gubernur gue itu. Padahal gue datang ke program ini dengan bangga mewakili provinsi Banten tercinta. Tapi kali ini orang-orang lebih tau Banten sedang ada masalah karena Bu Atut ditangkap KPK dan selalu jadi bulan-bulanan media. Disaat gue dengan bangga memperkenalkan diri dari Banten, disaat itu juga orang-orang ngetawain, nyindir, atau ngomentarin seenak udel tentang Bu Atut. Kenapa mereka bilang sama gue? Emang salah gue? Salah temen-temen gue? Salah nenek gue? Salah temen arisan nenek buyut gue?????? *sorry agak lebay. Tapi… to be honest, it’s really annoying saat orang-orang ngatain Bu Atut ke gue😦

***

Ceritanya gini, sebelum gue berangkat ke Australia dalam rangka program PPAN, gue training dulu di Jakarta. Diantara kegiatan training selama sepuluh hari itu, ada kegiatan pembekalan materi untuk peserta. Setiap kali ganti pembicara, setiap kali itu juga harus perkenalan diri. Inilah saat-saat meresahkan, karena setiap kali gue nyebut asal dari Provinsi Banten, para pembicara langsung bilang kasus Atut.

“Perkenalkan nama saya Nurzahara Amalia, perwakilan dari Provinsi Banten.” Ujar gue semanis mungkin setiap kali pembicara minta perkenalan diri. “Ohh…. anaknya Bu Atut ya? Dari Banten? Gimana tuh gubernurnya ditangkap KPK? Oh… dari Banten, yang gubernurnya korupsi ya? Rame tuh di TV” Daaann bla bla bla  tentang Atut dan kasusnya yang sering para pembicara komentari usai gue perkenalan diri. Yang bikin ngenes, gak sedikit teman-teman gue ikut ngetawain kalau ada orang tanya soal Atut. Saat itu gue masih senyum-senyum aja mendengarnya atau menimpali sekenanya, “ya baguslah Atut ditangkap, koruptor berkurang satu di Banten.”

***

Gubernurku sayang, gubernurku malang

Gubernurku sayang, gubernurku malang

Training di Jakarta usai. Pergilah gue dan 17 teman dari provinsi lain ke Australia untuk menjalankan program, diantaranya ada program Work Placement atau magang kerja. Gue dapet magang di radio SBS Program Bahasa Indonesia. Bisa dibilang, itu radio pemerintah Australia. Ternyata, berita tentang kasus Atut pun sampe ke Australia. Bahkan lebih dari satu kali pemberitaan itu naik selama gue magang. Gue malu. Disaat gue mau promosiin daerah gue, orang-orang lebih ngenal sama sosok Atut dan korupsinya itu. Disisa semangat gue yang masih besar, gue coba alihkan ke arah yang lebih positif tentang Banten. Misal tentang pariwisatanya yang gak kalah keren dari Bali dan lain sebagainya.
Sepulang dari Australia selama 2 bulan disana, kami kembali ke Indonesia dan melanjutkan program di Sumatera Barat untuk 2 bulan. Gue kira kasus Atut udah reda, ternyata makin menjadi. Terutama saat detik-detik penentuan status tersangka kepada Atut. Heboh! Bahkan, gak ada angin gak ada hujan, Emak gue SMS, bukannya nanyain kabar anaknya yang tinggal merantau, malah ngasih kabar soal Atut. “Bu Atut ditangkep KPK… ayeuna nuju heboh di TV. Karunya nyaaa”* kira-kira begitu SMS nya. Dan gue hanya bisa menggelengkan kepala -_______-“ *Bu Atut ditangkap KPK, sekarang lagi heboh di TV. Kasian ya.
***
Sekarang gue di Bukittinggi untuk fase terakhir. Lagi-lagi, seolah udah jadi kebiasaan orang-orang ngomong soal Atut tiap kali abis gue ngenalin diri. Kemarin, ada bapak-bapak jajaran pemerintahan Kota Bukittinggi nanya. “Dari mana dek?” tanyanya. “Saya dari Banten pak” jawab gue ragu. “Ohh hahahaha masih keluarganya Atut ya? Hebat tuh Atut.” Seenaknya aja bapak itu nuduh gue keluarga Atut, dan gue gak ngerti yang dimaksud ‘hebat tuh Atut’ yang di bilang Bapak itu. Nyindir, pak? Entah kenapa jadinya gue malah lebih sensitif tiap kali orang bilang kasus Atut. Tapi yaaa… lagi-lagi gue cuman bisa diem.

Sorenya, gue ke kantor RRI Bukittinggi untuk perkenalan dengan karyawan disana dan membahas soal pekerjaan selama gue magang di RRI. Gue dan counterpart gue dipandu keliling ruangan oleh supervisor sebut saja Bapak A, tiba di ruang marketing, supervisor ngenalin ke seorang bapak dan seorang ibu yang ternyata mereka adalah suami isteri yang sama-sama kerja di RRI. Bahkan anaknya juga sebagai penyiar disana. Hampir aja gue keceplosan bilang dinasti. Sejenank gue merenung, dan urungkan niat nyebut kata dinasti karena gue langsung ingat, di daerah gue aja dinasti. Namun tiba-tiba suara supervisor gue memecahkan lamunan gue. Nohok! Jleb!
“Yaa… mereka suami isteri, anaknya juga disini sebagai penyiar. Seperti dinasti ya… tapi dinasti kan cuma ada di Banten ya, Zahara? Kaluarganya Atut ngejabat semua, kan?” kata supervisor gue. Gue pengen teriak rasanya digituin, “STOP!!! JANGAN BILANG PERKARA ATUT KE GUE! GUE GAK PUNYA URUSAN SAMA RATU YANG SATU ITUUU!!!” gue hanya bisa teriak dalam hati, memendam hingga muka ini memerah dibuat malu. Tapi…. Gak semerah wajah Atut saat kepanasan sih. Masih mending gue wajah alami tanpa harus dioperasi. Terkadang muncul rasa ingin segera mengakhiri program dan berakhir bertemu orang-orang baru. Karena gue males ngenalin diri, gue males dibilang anak buahnya Atut, dibilang keturunan Atut dan lain sebagainya. Gue hanya rakyatnya aja…. Ya…. cuma rakyat biasa di Banten, yang suatu saat nanti gue akan buktiin Banten bisa lebih maju dari sekarang. Ditangan gue, dan ditangan pemuda-pemudi generasi Banten, akan gue bawa nama baik Banten. To be continue………..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s