Catatan Perjalanan Ke Singapura-Malaysia #Part 4

Hari Keempat. Jum’at 14 Maret 2014.

Hari ini tujuan utama saya ke Batu Caves. Namun sebelum kesana, saya mampir lagi ke Pasar Seni buat beli oleh-oleh. Karena hari ini adalah hari terakhir saya di KL. Dari Pasar Seni saya jalan ke China Town. Dari situ saya ke stasiun monorail Kuala Lumpur untuk menuju Batu Caves. And you know what???? Setiba saya di stasiun, saya bertemu dengan teman yang satu daerah dengan saya. Sama-sama dari Pandeglang ketemu di KL! :’D Inikah yang disebut “dunia seperti daun kelor?” sempit banget. Dia nggak sendiri, dia jadi guide buat beberapa temannya yang beberapa diantaranya saya juga kenal.😀 inilah takdir. Akhirnya saya jalan bersama dengan mereka ke Batu Caves. Asik ada yang bisa ganti-gantian foto deh. Haha….

IMG_6833

Patung Hanoman di Batu Caves

Ketemu sama orang2 Pandeglang di KL :D

Ketemu sama orang2 Pandeglang di KL😀

Dari stasiun di KL untuk menuju Batu Caves kurang lebih setengah jam. Setiba disana, saya dengan teman saya, namanya Huda langsung menuju tempat makan. Karena emang udah lewat dari jam makan siang. Kami langsung menuju kedai makanan india, disana saya pesan roti canai.  Memasuki tempat wisata Batu Caves ini nggak ada harga tiket masuk, alias gratis. Pintu masuk wilayah ini tepat disamping stasiun Batu Caves. Lalu kita akan disambut oleh Patung Hanoman berwarna hijau dan kuil pemujaan. Di lokasi ini juga ada beberapa kios yang menjajakan kue dan souvenir di sepanjang jalan menuju patung yang jauh lebih tinggi dari patung hanoman tadi. Yaitu patung Murugan yang berdiri tegak berwarna keemasan. Di belakangnya terdapat tebing yang bisa kita naiki melalui barisan anak tangga untuk mencapai bukit itu. Berhubung panas terik, saya juga lelah dan lapar, saya nggak naik ke bukit itu. Hanya foto-foto aja di depan patung Murugan. Puas jalan-jalan di Batu Caves, saya serta rombongan teman-teman dari Pandeglang kembali pulang. Kami sama-sama menuju stasiun KL Central. Disana kami makan lagi…. Hehee. Karena tadi di di Batu Caves Cuma makan roti canai, akhirnya saya cari makan yang berat. Yaitu makanan bernasi! Dasar perut orang Indonesia banget. Meski udah makan roti, sebelum ketemu nasi mah mana bisa kenyang :’) saya pesan nasi lamak… enak juga makanan disini. Dan kita nggak akan terganggu sama perokok. Buat yang merokok, ada tempat khusus buat perokok. Selesai makan, akhirnya saya harus berpisah dengan teman-teman. Karena mereka masih ada tempat tujuan yang mau didatangi. Sementara saya harus segera ke airport. Pesawat saya berangkat besok pagi. Saya nggak mungkin menginap lagi di KL Center, karena saya nggak mau ribet dan nggak mau tergesa-gesa dipaginya. Akhirnya saya memutuskan untuk menginap di bandara aja. Dari KL Sentral saya naik bis untuk menuju bandara KLIA. Tiba di bandara  sekitar pukul 20.00. Demi apapun, ini bandara juga jauh lebih gede dari Soetta. So, saya jamin kita nggak akan bosan buat jalan-jalan ngelilingi KLIA ini. Bahkan mungkin buat seharian keliling juga nggak cukup. Tempatnya beneran nyaman. Ditambah ada akses wifi gratis.

Kita juga nggak harus takut buat nginep disini. Karena nggak sendirian kok. Banyak juga yang nginep di KLIA. Kebetulan, pas saya ada di KL ini, lagi ada peristiwa hilangnya maskapai Malaysia Airline MH370. Jadi KLIA beneran ramai. Di tempat dekat saya “menggelandang” buat tidur juga beberapa kali dijadikan lokasi shooting acara berita gitu. Karena ada spanduk besar ungkapan berduka dari para pengunjung KLIA dengan membubuhkan tanda tangan serta ungkapan doa dan harapan. Malam semakin larut, saya pun tenggelam dalam mimpi………….

Hari Kelima. 15 Maret 2014

Inilah hari terakhir perjalanan saya. Pesawat saya take off pukul 07.50. Otomatis dari jam 6 saya harus sudah ready. Selesai check in dan melewati imigrasi, saya pun menunggu pesawat yang akan membawa saya pulang ke tanah air.

Sungguh ini perjalanan yang penuh kesan bagi saya. Akhirnya saya bisa jalan ke luar negeri seorang diri. Dengan budget yang terbatas pula. Honestly ini menjadi kebangaan tersendiri buat saya. Karena saya bisa menaklukan kekhawatiran dan ketakutan yang menghantui. Kita memang harus selalu waspada, khawatir wajar, tapi jangan jadikan sebuah ketakutan menjadi kendala untuk melangkah. Karena jika kita mundur, kita nggak akan pernah tahu apa yang terjadi di depan. Jika pun terjadi rintangan, itu menjadi tantangan buat kita bagaimana melewati tantangan itu. Seperti yang saya alami, nyaris kehilangan paspor, sulit mencari tempat penginapan pada malam hari, nyasar, dan lain sebagainya. Semua akan berakhir indah ketika kita bisa melewatinya. Justru rintangan-rintangan itu yang membuat perjalanan saya lebih berwarna dan dinamis.  :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s