Menes, Teramat Sayang Untuk Disayangkan

Sebelumnya saya pernah posting tentang sejarah dan perkembangan Menes. Sebuah kecamatan yang secara kasat mata, nggak ada perkembangan signifikan dan memukau hingga wow selama saya tinggal 24 tahun di Kecamatan ini. Yang melatar belakangi saya kembali menulis tentang Menes ini adalah….

Pagi tadi, usai marathon dari rumah saya di Kampung Pasirwaru menuju Alun-Alun Menes, saya mampir ke PKBM Menes. Pada marathon sebelumnya saya juga beberapa kali menyempatkan mampir. Tapi hanya sekedar duduk-duduk di pelataran PKBM. Nggak ada seorang pun yang bisa saya temui disana. Mungkin masih pada tidur. Biasanya saya tiba di alun-alun pukul 6 pagi atau lewat beberapa belas menit. Kali ini, saya coba datangi lagi. Dengan berharap ada seseorang yang saya temui. Ternyata harapan saya nyata. Ada orang disana. Yeah!

Saya ingin berbincang-bincang tentang kegiatan PKBM ini, karena saya tertarik terlibat jika ada kegiatan. Sebelum saya menemui orang itu, saya melihat terpasang spanduk besar bertulis “Sanggar Seni dan Budaya Berkah.” Wah, ada sanggar nih. Saya semakin tertarik karena saya juga memang ingin ikut kegiatan sanggar. Saya ingin belajar silat (lagi). *Uhuk😀

Dulu pas jaman SD pernah belajar silat, karena itu termasuk kegiatan yang harus diikuti oleh siswa SDN Menes 1. Tempat saya sekolah dulu, tahun 1997-2002. Setelah itu saya baru belajar silat lagi tahun 2013, tapi singkat sekali hanya beberapa kali pertemuan. Itu pun latihannya di Sodong, jaraknya agak jauh dari rumah saya. Agak riskan juga kalau latihan malam. Nah makanya saya cari sanggar yang ada di Menes. Dan hei! Ternyata ada……

“Punteun a….” Saya menyapa lelaki yang sedang duduk di salah satu ruangan terbuka.

“Iya, mau cari siapa?” tanyanya.

“Ini mau nanya, disini sekarang ada sanggar ya…. Gimana caranya kalau mau ikut?” sambil menunjuk spanduk yang terdapat beberapa foto penampilan silat, debus, nari, dan lainnya.

“Oh iya, bisa sih… mau ikut apa?”

“Debus!”

“Hah? Jangan perempuan mah….”

Hahaha saya nggak serius keleus. Tapi emang napa kalau perempuan debus? Teman perempuan saya juga ada beberapa yang bisa debus. Keturunan sih dia mah…😀

“hehe… nggak a, pengen belajar silat.”

“Oh… silat mah itu ke Kang Surya.”

“Oh gitu! Kang Suryanya ada???” Saya antusias.

“Ada….”

“Dimana?”

“Itu…. Orangnya di foto yang lagi nabeuh gendang” sambil nunjuk salah satu foto di spanduk.

*Saya pingsan!

“Orangnya ada disini a?” udah mulai nggak antusias.

“Nggak ada. Di rumah nya mungkin.”

*Saya pingsan lagi. -___-

******

Percakapan saya dengan si Aa ini (saya lupa nggak nanya. Bodoh!) lumayan panjang. Nggak berakhir disitu. Dan yang pasti saya nggak pingsan.😛 Saya hanya menyayangkan, ketika fasilitas sudah ada, namun kegiatan kurang diminati, lalu timbul pertanyaan. Kenapa kurang diminati?

Dari percakapan itu, saya bukan hanya mendapat jawaban ketidakjelasan bagaimana bisa masuk sanggar untuk bisa belajar silat. Karena orang itu mengatakan, biasanya pelatihnya yang masuk ke sekolah-sekolah, sasarannya sebagian besar siswa. Sedang untuk umum ada di salah satu padepokan di Menes yang dia juga nggak begitu menjelaskan bagaimana saya bisa gabung ke padepokan itu. Okelah, nggak apa-apa. Nanti saya bisa cari tau lagi dengan mendatangi padepokan atau menemui Kang Surya.

Tapi saya menyayangkan, ketika mendengar ucapapan orang ini yang terkesan hopeless. Saya pernah mendengar, di PKBM ini ada kegiatan kursus bahasa inggris, kursus komputer, sarana olahraga untuk bulu tangkis ada, rak-rak buku tertata… walau buku-bukunya sebagian berantakan. Dan beberapa program dan kegiatan lain yang sangat bagus untuk terus diadakan secara berkelanjutan. Asset yang kini dimiliki harus menjadi kebanggan oleh orang Menes. Fasilitas sudah mulai disediakan untuk menampung dan mengembangkan bakat dan minat masyarakat. Tapi dari pengakuan orang ini, beberapa kegiatannya tidak berjalan dan fakum.

“Tahun ini fokus kita lebih kepada pengembangan wirausaha, itu juga ada gerobak mie ayam. Dibuat oleh yang belajar ikut paket disini buat usaha. Komputer-komputer yang udah nggak kepake karena nggak ada lagi kursus komputer juga kita jadikan usaha rental.”

“Tapi kalau kegiatan lain mah belum ada. Ini fasilitas olahraga juga di lapangan bulu tangkis nggak ada lampunya. Udah jarang dipakai sih….”

“Sekarang kegiatan yang masih berjalan apa?” Tanya saya.

“Apa ya? Belum ada lagi sih sekarang mah. Kurang peminat. Padahal sosialisasi mah udah. Lagi pula siapa yang nggak tau PKBM. Orang-orang Menes mah pasti tau.”

Sayang sekali. Ketika fasilitator ada, tapi masyarakat kurang antusias.

Saya amat sangat sadar diri, nggak (belum) ada yang bisa saya perbuat untuk daerah asal saya ini. Tapi diam-diam saya sangat mendukung setiap apa yang dapat mengembangkan Menes. Kota kecil ini terasa nyaman dan selalu dirindukan ketika saya sesekali “merantau”. Entah apa yang membuat nyaman. Saya ingin melihat Menes mengalami kemajuan, bukan hanya dari sisi pembangunan. Melainkan masyarakatnya juga. Perlu saya akui, bukan saya membanggakan diri, saya melihat karakter orang-orang Menes ini memiliki hasrat untuk berkembang. Masyarakat Menes sudah melek literasi, memiliki tingkat pendidikan yang baik. Lalu mengapa masih terlihat stagnan? Perlu berapa lama lagi untuk ada perubahan?

Di bagian mana yang harus dievaluasi agar segera dapat dibenahi? Ataukah masyarakat Menes sudah terlalu nyaman dengan keadaan seperti ini? Berada di zona nyaman memang rawan, kawan.

Ah entahlah, saya pun hanya bisa merutuki diri sendiri ketika hanya bisa bertanya-tanya dan berkomentar tanpa (belum) mampu melakukan apapun. Tapi, yang coba terus saya tanamkan dalam hati, “saya ingin berkontribusi untuk daerah” dengan cara apapun yang saya bisa. Tentu nggak bisa sendiri, saya juga butuh kamu, kamu, dan kamu yang juga ingin melakukan perubahan untuk Menes. Semoga program PKBM bisa kembali berjalan, semoga semangat pengurusnya nggak luntur untuk terus memfasilitasi masyarakat Menes untuk terus berkembang. Sumber Daya Manusia menjadi penentu utama maju atau tidaknya suatu daerah. Untuk mengembangkan SDM, saya rasa perlu ada big willing untuk terus meng-upgrade kemampuan diri. Dengan banyak membaca, berdiskusi, mengikuti perkembangan berita, dan mengasah kemampuan yang dimiliki.

Kota kecil kesayangan saya ini sungguh sangat disayangkan untuk disayangkan.
Catatan : Punteun pami aya kaleupatan. Silahkan dikoreksi bila ada kekurangtepatan, atau ada informasi tambahan saya terima menjadi masukan.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s