Thankful in 2014 And Please, Welcome 2015

Setahun berlalu, tahun 2014 pun hanya tersisa dalam hitungan jam. Banyak hal yang telah berlalu seiring berjalannya waktu selama setahun ini. Dan tentu amat saya syukuri. Bagaimana tidak? Saya masih diberikan kesempatan untuk bernafas hingga detik ini. Sehingga saya bisa menulis catatan ini. Sehingga saya bisa berpikir untuk merenungkan apa yang telah terjadi setahun ini. Untuk apa? Tentu agar tahun berikutnya bisa lebih baik lagi. Bukankah hal itu yang selalu diinginkan oleh kita?

Di awal tahun 2014, pada Januari tepatnya, saya kembali gagal masalah cinta. I broke up with my ex coz something. Soal cinta emang selalu rumit dijalani so far. Allah pasti telah menyiapkan the best one. Beruntungnya, saya nggak begitu sedih berlebaian kala itu. Cukup semalam saja menangis. Ditambah, saya juga sedang ada kesibukan. Januari hingga Februari saya masih berada di dalam program AIYEP. Bergabungnya saya di AIYEP membuat hidup saya lebih berwarna dan berarti. Darinya, saya bisa bertemu dengan orang-orang hebat yang menginspirasi saya untuk lebih semangat, open minded dan menyadari keindahan perbedaan. Selama di AIYEP itulah saya dipertemukan dengan orang yang berbeda agama, latar belakang budaya, keluarga, suku, pendidikan, karakter, lalu dari perbedaan itu saya bisa belajar untuk menerima perbedaan yang selama ini seolah menjadi kambing hitam dalam perselisihan dan perpecahan. To be honest, I do love AIYEP.  Saya amat bersyukur telah menjadi bagian darinya. Bukan hanya itu yang saya dapatkan saya juga memiliki banyak keluarga baru. Yang mungkin nggak gampang bisa didapatkan oleh orang lain.

Maret, pertama kalinya saya ke luar negeri yakni ke Singapura dan Malaysia sendirian. Terus terang saya bangga akan hal ini. Hal yang mungkin orang lain takut melakukannya. Tapi saya berhasil menaklukan ketakutan itu. Bagi orang asing, bepergian sendiri ke luar negeri mungkin amat hal biasa. Tapi bagi saya, orang yang berasal dari keluarga berekonomi menengah dan berada dalam lingkungan yang belum biasa bepergian sendiri apalagi ke luar negeri, itu menjadi hal yang nggak biasa.

Apalagi ke luar negeri dengan biaya yang bukan meminta dari orang tua. Bahkan ketika saya cerita ke beberapa teman sebelum saya berangkat backpack ke Singapura-Malaysia, mereka menganggap saya terlampau nekad dan gila. Saya selalu mengatakan, kadang kita harus menjadi gila untuk meraih apa yang kita inginkan. Saya jadi ingat teman saya, Beni namanya. Dia punya mimpi untuk pergi ke Amerika. Dia ditertawakan oleh teman bahkan keluarganya akan mimpinya itu. Mereka menganggap Beni ini gila. Bagaimana orang kampung bisa ke Amerika? Mereka menganggapnya begitu. Tapi memang iya, teman saya ini gila. Dia belajar gila-gilaan, usahanya gila-gilaan, sampai akhirnya dia benar-benar bisa mewujudkan mimpinya ke Amerika. Mimpinya terwujud! Gila bukan? Ini yang bisa kita pahami bersama bahwa untuk berhasil itu nggak peduli kita berasal dari mana. Nggak pandang bulu apakah dia dari kampung atau kota, miskin atau kaya, yang membedakan adalah apakah kita punya mimpi atau nggak? kita punya keinginan keras untuk mewujudkan mimpi itu atau nggak? Mari kita renungkan J

April hingga bulan-bulan selanjutnya, saya kembali menjadi job seeker. Sampai akhirnya pada Mei, saya diterima bekerja di Radio Nasional genre berita yaitu Radio Elshinta. Sampai saat ini saya masih tercatat sebagai karyawan Radio Elshinta. Sebelum bergabung di Elshinta, di tahun 2012-2013 saya pernah juga bekerja di radio lokal. Ternyata ritme kerjanya sangat berbeda. Di Elshinta dituntut untuk bekerja cepat dan tepat. Ya wajar juga, karena genre nya totally berita yang mana berita setiap saatnya sangat dinamis. Maka ritme kerjanya juga dibutuhkan fleksibilitas namun tetap cepat dan tepat. Ya, setidaknya itu yang saya rasakan. Namun hal itu justru memacu diri saya untuk berkembang. Saya harus belajar banyak hal untuk mengikuti perkembangan berita yang sedang terjadi. Banyak hal yang awalnya saya nggak tahu menjadi tahu. Dan saya senang akan hal itu. Meskipun saya merasa kadang terlalu bodoh, karena banyak yang belum saya ketahui. Maka ini juga lah yang nggak pantas kalau nggak saya syukuri. Saya ditempatkan di tempat kerja yang menuntut saya untuk terus berkembang. Bukankah itu harus disyukuri?🙂

Saya nggak tahu sampai kapan saya bisa bertahan di Elshinta. Karena, ada faktor lain yang membuat saya merasa dilemma. Tapi itu nggak akan saya tulis disini :) semoga ke depan akan selalu diberikan yang terbaik untuk saya. Namun satu hal, selama saya di Elshinta, I’ll do my best!

Sebenarnya, di tahun ini emang nggak selalu berjalan dengan mulus. Mimpi saya untuk bisa lolos beasiswa S2 tahun ini gagal. Sedih. Sangat! Tapi itu nggak menyurutkan semangat saya. Semoga itu menjadi keberhasilan yang tertunda. Dan akan terwujud di 2015 nanti. Amin amin amin.🙂

Sepanjang tahun 2014 ini terasa begitu cepat. Tentu banyak hal yang saya lalui. Yang nggak mungkin saya tulis semuanya disini. Cukup menjadi bahan renungan agar dapat dievaluasi. Gagal dalam urusan cinta, gagal meraih beasiswa, dan gagal-gagal lain yang sempat membuat dada sesak  semoga nggak terulang di tahun mendatang. Tahun yang masih menjadi misteri illahi. Saya yakin, semua ini telah tercatat dengan apik dalam skenarioNya. Yang tentu Ia tahu apa yang terbaik bagi hambaNya.

Terima kasih saya ucapkan bagi siapapun yang telah mengisi hari-hari saya sepanjang tahun 2014. Keluarga, teman, siapapun itu. Yang telah mewarnai kehidupan saya. Sekalipun terkadang warna itu gelap. Semoga di tahun 2015 apa yang menjadi keinginan kita seiring dengan takdir yang telah digariskan oleh Allah. Selamat tahun baru  :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s